Menghabiskan sebagian umur di Jogja memang menancapkan banyak kenangan. Manis - pahit - sedang - kecut, wis campur aduk kayak gudeg yang sudah dipanasi dua hari. Lebur membubur. Hanya suwiran ayam merambut di atasnya dan sembulan lombok rawit berwarna merah kempos yang membuatnya nampak manis.
Rasanya tiap tahun datang ribuan orang lulusan SMA dari seluruh pelosok negeri tumplek blek nyari kost. Kulitnya hitam-putih-kuning, semua dengan segala kebiasaannya. Membaur dalam satu kost yang berkamar dua puluhan memang sedikit memerlukan waktu. Belum lagi masalah dialek, memerlukan seni tersendiri untuk memahaminya hingga kita tertawa.
Mengamati kelakuan seluruh manusia rasanya bisa diwakilkan dari situasi di Jogja. Pinter - Alim - Nakal - Mabok - Judi - Playboy...wis lengkap. Inti dari semua kelakuan itu adalah "siasat" meskipun tanpa disadari.
Sing pinter memang pinginnya cepat lulus. Sing alim memang bawaannya begitu. Sing mabok biasanya kelebihan duit dan tinggal kirim kilat khusus, dalam waktu seminggu sudah ada klakson motor oranye di depan pintu....pos-pos... Datang dah si wesel. Memang di kampungnya sana ada pohon uang yang tinggal digoyang.
Jaman sekarang, rasanya sulit buat mahasiswa yang hidupnya boros. Telpon sudah ada di mana-mana. Henpon itu seperti indomie jaman kita dulu....semua punya. Dengan adanya alat komunikasi, semakin sulit mendramatisir keadaan. Mau bohong takut dosa, mau memelas kok nggak bakat. Beda dengan surat. Tulis saja uang sudah habis, maka orang di kampung akan kalang kabut. Sampainya surat memerlukan waktu 3 - 4 hari, jadi dikampung mengira selama itu anaknya nggak makan. Dijamin segera dikirim sepanjang enolnya dibawah lima.
Kyu - kyu adalah salah satu permainan yang populer di kos-kosan. Puteran uangnya cepat, lebih cepat lagi puteran barang. Seninya ada dimlirit kartu hingga nyembul buletan abange. Semua yang ada di kamar pernah sekolah. Mesin tik, motor, tv. Sekolahannya banyak, ada di belakang pasar sentul, bausasran, tugu ngulon, kota gede....semua diterima. Paling deg degan kalo nyekolahkan tv. Maksudnya tv rusak. Beli aja tv rusak, poles dikit dan bawa ke sekolahan di atas jam 12. Dulu, siaran siang hanya ada TPI dan hanya sampai jam 12. Sang petugas dengan gaya dan keyakinan penuh mencolokkan setrumnya persis di depan kita. "Urip, apik" serunya kepada penaksir di loket. Padahal yang muncul hanya gambar semut. Coba deh test ntar malam. Pasti semut juga yang keluar. "Titip ya pak...." dalam hati sambil mesem.
Sekolahan swasta juga ada. Namanya Bu Jangkrik. Beliau ini merk minded. Bagi yang punya kawan pandai elektronik, inilah ladangnya. Bikin tipdek, beli casing sony bawa ke utaranya stasiun tugu. Mesti untung di atas 40% . Bagi yang punya BPKB tapi nggak punya motor, modalnya cuma bikin plat di rombong pinggir jalan, samakan dengan nomor di BPKB lalu pinjam motor teman yang sama mereknya. Tinggal dibawa ke Bu Jangkrik. Jadilah BPKB tadi sebagai jaminan. Ambil dah bu....Kasian si Ibu ini...kalah cepat informasinya.
Kalo mau nonton balapan asu juga ada. Jadwalnya malam kemis jam 11 malam. Tempatnya di samping jembatan layang dekat bioskop mataram. Di situ agen besar SDSB. Semua orang ngumpul ndengarkan siaran radio abis berita jam 11: "ya...diputar...bola sudah masuk semua...9..0..8..3..2..3..4..2..1..1..4.." Habis itu mulailah terdengar semua pisuhan. Itulah yang disebut dengan balapan asu.
Mau kenyang dengan bayaran murah? Caranya gampang. "Mbak, tandhuk seperapat mawon..." Dapatlah kita nasi tambahan separo dengan tarif seperapat. Susah le nakar seperapat.
Iseng nggak bisa tidur, muter aja naik motor rame-rame di sekitar SMA 3. Di situ mesti ada seorang Ibu pakai jeans dengan kaos krah werno abang. Atribut lainnya adalah payung. Namanya Yu Dharmi. Kabar terakhir, beliau jadi simpatisan salah satu partai besar.
Ini bukan catatan kriminal, dan kalo ada pak polisi yang membaca tulisan ini harap jangan diproses. Percuma....semua barang bukti sudah lenyap pak. Maaf ya pak.
03 May 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment