17 January 2006

Citra Manusia Bermotivasi Superior

Setiap manajer dan eksekutif/pimpinan pada umumnya tahu benar bahwa karyawan bermotivasi superior merupakan aset sejati. Sedangkan karyawan bermotivasi rendah adalah sumber masalah dan penyakit. Ia membuat pusing rekan sekerjanya, bikin susah atasannya, bikin marah pelanggannya.

Mengapa orang bermotivasi superior merupakan aset?
Setidaknya karena sepuluh citra berikut:

Pertama, orang bermotivasi superior adalah bagian dari penyelesaian masalah, andalan bagi upaya mengejar prestasi.
Sedangkan orang bermotivasi rendah adalah bagian dari masalah, tidak bisa diandalkan untuk proyek-proyek rintisan karena sikap mentalnya didominasi oleh pikiran "apa untungnya buat aku?"

Kedua, orang bermotivasi superior bekerja dengan semangat I am doing my best? my utmost? sehingga kualitas kerjanya tinggi. Artinya, nilai tambah dirinya tinggi.
Tetapi orang bermotivasi rendah bekerja seadanya, ala kadarnya, minimalis. Pekerjaannya tidak bermutu. Nilai tambahnya rendah.

Ketiga, orang bermotivasi superior memiliki disiplin tinggi, sehingga ia bisa menjadi contoh bagi orang lain. Ia bersemangat, menularkan antusiasme kepada sekitarnya.
Tetapi orang bermotivasi rendah bersikap seenaknya, lesu darah, malas, dan gemar mencari kambing hitam bila pekerjaannya tidak selesai. Ia juga suka beredar dan menebarkan virus beracun dengan kebiasaan 5-ng (ngeluh, ngedumel, ngegossip, ngomel, ngeyel).

Keempat, orang bermotivasi superior gigih menghadapi masalah, kreatif memecahkan problem, dan jeli melihat peluang dalam setiap kesulitan.
Tetapi orang bermotivasi rendah gampang menyerah, tidak kreatif, dan selalu melihat kesulitan dalam setiap peluang.

Kelima, orang bermotivasi superior cepat maju karirnya karena ia rajin belajar, gemar berguru, dan senang mengasah kemampuan dirinya.
Tetapi orang bermotivasi rendah lambat majunya karena ia malas belajar, ogah berguru dan segan memperbarui keterampilan. Ia tergantung pada orang lain sehingga malah jadi beban bagi pimpinannya.

Keenam, orang bermotivasi superior masuk kantor lebih awal dan pulang lebih sore sampai tugasnya tuntas. Produktivitasnya tinggi.
Tetapi orang bermotivasi rendah suka datang terlambat, suka curi-curi waktu, tidak sabar menunggu usai jam kantor, dan sangat senang jika ada hari kejepit.

Ketujuh, orang bermotivasi superior punya sense of belonging yang besar; ia turut memelihara, merawat dan membesarkan perusahaan dengan sikap menyayangi.
Tetapi orang bermotivasi rendah tidak peduli pada organisasinya, miskin sense of belonging dan memperlakukan perusahaannya sebagai sapi perahan.

Kedelapan, orang bermotivasi superior tidak memerlukan pengawasan. Ia dapat bekerja mandiri sehingga energi dan waktu pemimpin dapat digunakan untuk hal lain yang lebih penting.
Tetapi orang motivasi rendah bagaikan "kuda liar" yang senantiasa memerlukan pengawasan, tali-les-dan-kekang. Waktu atasan banyak habis untuk mengawasi mereka.

Kesembilan, orang bermotivasi superior, hatinya dipenuhi oleh emosi gembira, semangat dan suka cita. Loyalitasnya tulus.
Tetapi orang bermotivasi rendah tidak pernah puas. Ia selalu resah. Setiap hari rajin membaca iklan lowongan kerja. Loyalitasnya cuma sebatas ada kesempatan baru di tempat lain. Ia siap meloncat setiap saat jika keadaan sudah dinilainya menguntungkan.

Terakhir, orang bermotivasi superior dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya sehingga hasil kerjanya bermutu dan produktif.
Tetapi orang bermotivasi rendah gampang kejangkitan isu, takut pada banyak hal, cepat merasa bosan, dan suka berpikir negatif.

Jadi secara umum, pentinglah bagi siapa saja untuk tahu bagaimana memotivasi diri sendiri, memotivasi orang lain, bahkan memberdayakan seluruh eselon organisasi dalam rangka meraih prestasi dan keunggulan.

Sumber: Citra Manusia Bermotivasi Superior oleh Jansen H Sinamo, Direktur Jansen Sinamo WorkEthos Training Center.

No comments: